Generasi milenial adalah generasi dengan perkembangan teknologi yang semakin maju. Generasi ini tumbuh dalam iklim yang sangat kental dengan teknologi dan serbuan informasi yang cepat dan canggih. Mereka mudah menerima dan mengadopsi informasi yang lebih cepat, dan akan mencapai kebosanan apabila menjalani metode pelajaran tradisional. Generasi Milenial disebut sebagai anak-anak remote control karena mereka menghadapi perubahan yang terus menerus. Mereka selalu mencari tantangan, mempunyai rencana jangka panjang, optimistic, menghargai pengalaman pribadi dan punya pemikiran yang kritis.

Gaya belajar generasi milenial adalah berbasis indra. Misalnya visual, audio dan lainnya yang berdasar kepada kepribadian dan bakat mereka. Karena dalam kehidupan mereka sehari-hari teknologi sudah menjadi bagian dari hidup dan merupakan abad informasi untuk mencerminkan pola pikir mereka dalam gaya belajar. Pembelajaran mereka tercermin lebih interaktif melalui kerjasama tim, pengalaman, kolaborasi dan kelompok berpikir, mandiri dan terstruktur dalam penggunaan teknologi.

Mereka mempunyai orang tua dengan karakter umum yang jauh berbeda dari karakter generasi baby boomer, sehingga terbentuklah generasi yang penuh rasa ingin tahu, agresif dan penuh percaya diri, mereka memiliki harga diri yang tinggi, selalu mudah untuk berteknologi dan bisa menerima perbedaan dengan sangat baik.

Salah satu karakter generasi milenial adalah cara hidup yang multitasking, yaitu penanganan informasi dan komunikasi. Adapun contohnya adalah, bagaimana generasi-generasi sebelumnya pulang ke rumah dan menonton televisi, sedangkan generasi ini pulang ke rumah mendengarkan iPod sambil mengerjakan pekerjaan rumah, serta menggunakan sms dari ponsel mereka. Selain itu mereka juga menggunakan internet untuk penelitian atau informasi apapun yang mereka butuhkan. Karena multitasking ini, mereka tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk memproses beberapa aliran informasi pada waktu yang sama. Generasi milenial merupakan cyberculture yaitu sebuah kebudayaan baru dimana aktivitas kebudayaannya dilakukan di dunia maya yang tanpa batas.

Hal ini akan berdampak pada pembelajaran matematika. Selain sebagai penopang sekaligus pelengkap pengetahuan lain, mata pelajaran matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Tentunya hal ini hanya mitos belaka, karena setiap manusia memiliki potensi matematis. Apalagi dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, sekarang informasi seputar matematika juga dapat diakses melalui sosial media, dan tidak hanya terpaku kepada seorang guru maupun pembimbing. Potensi ini yang membantu manusia dalam memahami konsep matematika, pola-pola, dan angka-angka. Untuk itu potensi-potensi matematis ini perlu digali dan dikembangkan. Salah satu langkah positif dalam menggali potensi matematis adalah melalui kompetisi. Kompetisi dimaksudkan untuk memunculkan hirroh akan matematika, bukan kompetisi yang saling menjatuhkan dan merendahkan.

Oleh karena itu, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tadris Matematika (TMT) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung akan mengadakan sebuah kompetisi yang dikemas dalam bentuk olimpiade matematika sebagai ajang pengembangan potensi siswa/siswi yang duduk di bangku SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA, dan lomba karya tulis ilmiah untuk SMA/MA. Kegiatan ini bertujuan untuk membina serta memberikan sarana dan prasarana untuk generasi pelajar guna mengembangkan potensi dirinya kearah peningkatan kualitas dalam bidang matematika.

Categories:

Tags:

One response

  1. APOTEMA kelihatannya rame peminat, tapivsayang web nya gag kerawat, informasi kurang update.

Tinggalkan Balasan ke Ibnu mukti Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *